Cerita Legenda Gua Batu
Cerpen : Berawal Karena Tidak Bisa Belajar Secara Online
Dinda merupakan Siswi kelas 2A dia anak yang rajin mau membantu ibunya kerja. Ibunya Dinda bernama Kanis. Dinda tinggal dikampung bersama ibu dan adiknya, sedangkan ayahnya sudah menikah lagi. Mereka termasuk keluarga kurang mampu. Selama pandemi siswa siswi tidak lagi belajar tatap muka mereka harus belajar secara Online di rumah.
Pada suatu hari Dinda minta belikan HandPhone (HP) sama ibu nya…
'' Ma .. kami sekarang belajar Online lewat internet dan tidak lagi belajar tatap muka seperti biasanya, boleh kah saya membeli HP (HandPhone)? untuk kami belajar di rumah. ''
Sahut ibunya, '' Nak .. Maaf .. !! Ibu tidak bisa membelikan HP, ibu belum punya uang, apalagi sekarang harga barang naik dan pendapatan kita sedikit, lihat sawah kita gagal karena mau beli pupuk saja sekarang mahal.''
Mendengar perkataan ibunya Dinda sedih, karena tidak bisa belajar secara Online akhirnya Dinda memutuskan untuk berhenti sekolah.
Suatu hari Dinda merantau mencari pekerjaan di Pontianak, disana dia bertemu dengan Sem, Sem orang nya baik dan ramah. Sem mau membantu Dinda mencari pekerjaan akhirnya ada lowongan kerja bagian masak di warung makan. Di sana dia bertemu dengan pemilik warung makan biasa di panggil Bu De,
Dinda : ''Selamat siang bu, maaf perkenalkan nama saya Dinda ! di sini saya mau mencari kerja bu ? apakah disini masih ada kerjaan ? kerja apapun saya lakukan bu, yang penting hahal !''
Bu De : ''Iya, masih ada Nak Dinda, tetapi gaji tidak seberapa ya ?
Dinda : '' Iya bu, tidak apa yang penting saya bisa kerja.''
Bu De : '' kalau begitu mulai besok Nak Dinda kerja bagian masak ya?''
Dinda : ''Iya bu, mulai besok saya kerja, terimakasih ya bu, sudah menerima saya kerja disini.''
Bu De : ''Iya Nak Dinda sama - sama.''
Dengan senang hati Dinda bisa bekerja dan memasak di warung makan meskipun warung makan itu kecil. Bu De mempunyai seorang anak laki-laki bernama Anton, dia tampan, tetapi apa yang harus dia minta harus di turuti. Ternyata Anton sudah jatuh cinta pada pandangan pertama pada Dinda, tetapi Dinda tidak mencintainya karena sudah mengangapnya sebagai keluarga, dan Dinda juga sangat menyukai Sem.
Pada malam minggu Anton sudah berpakai rapi rencananya akan mengajak Dinda makan malam di Restauran dan sekalian jalan - jalan.
Anton: ''Dek Dinda malam ini kemana? yuk kita makan di Restauran sekalian kita nanti jalan- jalan .. ''
Dinda: '' Terimakasih bang, saya sudah janjian bersama Sem mau jalan juga ''
Mendengar Dinda berkata mau berjalan dengan Sem, dan tidak mau mengikuti ajakannya Anton menjadi kesal dan marah sampai mengusir Dinda,
Anton: 'Karena dek Dinda tidak mau ikut saya jalan, ternyata sudah punya pacar mulai besok pergi dari sini ! ''
Dinda: '' Iya bang ! maaf .. mulai besok Dinda pergi dari sini, dan terimakasih atas perhatian abang selama ini. ''
Menjelang pagi Dinda berangkat pulang kampung, dan memutuskan tidak mau berkerja lagi. Dinda pulang diantar Sem. Setelah sampai di kampung Sem pun berkenalan dengan ibunya Dinda,
Ibu Kanis: '' Nak, siapa nama mu? ''
Sem : '' Sem, Bu .. ''
Ibu Kanis: '' Maaf Nak Sem, asal dari mana dan siapa nama orang tua mu? ''
Sem : '' Asal saya Sibo Bu .. Daerah Sibale .. Sedangkan nama bapak saya Kalampe dan nama ibu saya Marinah. ''
Mendengar nama ayah nya Sem Kalampe, ibunya Dinda menangis dan mengusir Sem menyuruh dia pulang, ternyata ayahnya Sem ayahnya Dinda juga. Dinda pun heran mengapa ibunya sampai mengusir Sem dan Dinda pun bertanya pada ibunya,
Dinda : '' Ma .. Mengapa Mama tega mengusir Sem? ''
Ibu Kanis: '' Sem itu anak ayah mu juga yang sudah meninggalkan kita selama ini. ''
Mendengar itu Dinda kaget dan menangis. Ternyata Sem dan Dinda pernah tidur berduaan di penginapan. Dinda sedih mau kebencian apalagi ibarat kata pepatah nasi sudah menjadi bubur. Menjelang satu bulan Dinda hamil dia berencana mengugurkannya. Setelah melihat ada buku Doa dihadapannya Dinda langsung menangis dan menyesali perbuatanya, Dinda pun tidak berani mengugurkanya karena takut dosa besar. Akhirnya Dinda menghubungi Sem meminta pertangungjawaban atas kehamilanya.
Awalnya Keluaraga Sem sempat menolak hubungan mereka, karena melihat Dinda hamil akhirnya ibunya Dinda dan keluarga Sem menyetujui hubungan mereka dan akhirnya mereka melangsungkan pernikahan. Sem bersama keluarga harus membayar adat karena masih ada hubungan keluarga. Menjelang hamil tujuh bulan Dinda jatuh dari tangga sehingga membuatnya keguguran, karena banyak pendaran akhirnya Dinda pun meninggal.
Kutipan : Penyesalan selalu datang paling akhir! Cerita ini mengajarkan kita untuk tidak boleh terlalu cepat putus sekolah masih ada cara lain untuk lanjut sekolah, selama pacaran dengan pasangan mu kenali dia meskipun dia baik, dari mana asalnya, siapa nama orang tuanya, dan juga sebelum nikah jangan dulu sampai tidur berduaan dengan pacarmu, takutnya dia akan meninggalkan mu dengan yang lain.
Cerita ini hanya sebagai hiburan saja, dan juga untuk Inspirasi kita. Kalau ada kata tidak menyenangkan mohon maaf. Sekian dari cerita ini. Terima kasih !!
Komentar